People

Ferry Wira Padang

Ferry Wira

Ferry Wira Padang atau yang biasa dipanggil Ira lahir di Sukaramai, 5 Agustus 1982. Saat ini ia sedang menyelesaikan pendidikan S1-nya di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan Medan.

Sejak tahun 2009 hingga tahun 2015, Ira aktif di Aliansi Sumut Bersatu (ASB), sebagai pendiri sekaligus sebagai pelaksana harian lembaga. Dalam aliansi tersebut, isu pluralisme (keberagaman) merupakan isu yang diusung oleh lembaga untuk membahas keberagaman dalam arti luas, termasuk di dalamnya pembahasan isu gender, seksualitas, agama dan keyakinan. Ketiga konsep tersebut menjadi isu yang dipilih ASB, walaupun pada tahun 2010 ASB secara fokus memilih isu keberagaman agama/keyakinan yang disentuh. Proses ini tentunya menuntut ASB untuk berproses dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak sensitif menjadi senssitif. Pada tahun 2015, tepatnya sejak Maret hingga saat ini, tanggung jawab yang diberikan kepada Ira adalah dengan menjadi direktur program atau penanggung jawab program di ASB, yang memastikan seluruh program kerja yang dimandatkan ke ASB terlaksana dengan baik. Sejak tahun 2015 ASB melaksanakan program bekerjasama dengan Hivos dan Yayasan Satunama Yogyakarta untuk isu Pemenuhan Hak – Hak Konstitusioanal Kelompok agama minoritas dan penganut agama leluhur serta kelompok marjinal lainnya.

Berbagai kegiatan didesain dalam program tersebut, mulai dari pelatihan pluralisme, penanganan kasus intoleransi, kampanye dan publikasi, pemantauan media untuk isu kebebasan beragama dan berkeyakinan, dan lain-lain. Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara kerjasama dalam organisasi, Ira sendiri bertugas sebagai fasilitator untuk materi gender dan bentuk-bentuk ketidakadilan gender, konselor untuk perempuan (ibu-ibu) korban intoleransi, perempuan korban kekerasan, anak, dan lain-lain. Ira juga merupakan penulis buku laporan tahunan pemantauan ASB sekali setahun, serta menjadi narasumber untuk isu eksklusi sosial penganut agama leluhur di Indonesia.

Secara garis besar, Ira memiliki keahlian dalam isu peran dan ketidakadilan perempuan dalam kehidupan beragama/berkeyakinan. Tahun 2009, ia mengikuti pelatihan ketidakadilan gender dalam kasus intoleransi yang diadakan oleh Institut KAPAL Perempuan. Hingga saat ini, dalam setiap penanganan kasus intoleransi serta penanganan eksklusi sosial Penganut Agama Leluhur di Kota Medan, ASB secara khusus melakukan pendekatan dan konseling dengan kelompok perempuan.  Sayangnya, penganut agama leluhur yang sangat kental dengan budaya dan tradisi masih sangat melekat dengan budaya patriarki yang mendiskriminasikan perempuan.

Untuk mengetahui kontak Ferry Wira Padang, silakan hubungi admin Women Unlimited terlebih dahulu di:  Contact Us

Leave a Comment